KESTABILITAS SISTEM KEUANGAN INDONESIA DI TENGAH KETIDAKPASTIAN GLOBAL
KESTABILITAS SISTEM KEUANGAN INDONESIA DI TENGAH KETIDAKPASTIAN GLOBAL
JAKARTA, TaxCenter – Pemerintah Indonesia terus
berupaya untuk dapat memulihkan dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian
nasional di tengah ketidakpastian global.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjelaskan
bahwa Stabilitas sistem keuangan pada Kuartal II/2022 tetap akan terjaga
walaupun dunia sedang menghadapi dampak dari konflik yang terjadi antara Negara
Rusia dengan Ukraina yang masih berlanjut.
Ibu Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan
mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi saat ini telah memberikan dampak atas
peningkatan ketidakpastian perekonomian global.
Dengan adanya kondisi tersebut juga membuat semakin
meningkatnya inflasi global, dan juga respons pengetatan kebijakan moneter global
yang menjadi lebih agresif.
Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan Komite
Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memberikan perhatian terhadap sejumlah isu
global, di antaranya pertumbuhan perekonomian yang di perkirakan akan lebih
rendah dari proyeksi sebelumnya, meningkatnya risiko stagflasi, dan juga
ketidakpastian pasar keuangan.
Menurut Ibur Sri Mulyani Indrawati, desakan inflasi
global akan terus meningkat bersamaan dengan meningkatnya harga komoditas yang
diakibatkan karena adanya gangguan atas rantai pasok yang di perparah oleh
berlangsungnya konflik yang terjadi.
Hal tersebut telah memberikan dampak berupa meluasnya
kebijakan kebijakan proteksionisme di sejumlah negara, terutama di dalam bidang
pangan.
Selanjutnya di berbagai negara di dunia, terutama di
Amerika Serikat, telah merespons atas terjadinya peningkatan inflasi yang
signifikan dengan memperketat kebijakan moneter dan meningkatnya suku bunga
sehingga menyebabkan pemulihan perekonomian menjadi terhambat.
Kemudian tak hanya negara Amerika Serikat, perlambatan
pertumbuhan perekonomian juga diperkirakan juga terjadi di sejumlah negara
seperti di Eropa, Jepang, China dan juga India.
Ibu Sri Mulyani Indrawati juga mengatakan bahwa World
Bank dan IMF telah melakukan revisi ke bawah atas proyeksi dari pertumbuhan
perekonomian global pada tahun 2022 ini.
Sebelumnya World Bank telah memperkirakan perekonomian
global akan mengalami pertumbuhan sebesar 4,1% tetapi dilakukan revisi menjadi
sebesar 2%. Sementara IMF melakukan revisi atas proyeksi pertumbuhan
perekonomian global menjadi sebesar 3,2%dari yang semula sebesar 3,6%.
Selanjutnya Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan
bahwa dari sisi dalam negeri, untuk perbaikan kinerja perekonomian di
perkirakan akan berlanjut pada Kuartal II/2022. Peningkatan kinerja
perekonomian akan di dukung dengan adanya peningkatan tingkat konsumsi,
investasi, dan juga ekspor.
Selanjutnya juga terdapat berbagai indikator yang
tercatat positif. Seperti Indeks Penjualan Riil (IPR) yang terjadi pada bulan
Juni 2022 mengalami pertumbuhan sebesar 15,4%, dan juga PMI manufaktur yang
terus terekspansif pada bulan Juni 2022 yang sebesar 50,2 menjadi sebesar 51,3
pada bulan Juli 2022.
Walaupun demikian bahwa, Ibu Sri Mulyani Indrawati Komite
Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus mengamati perkembangan dari
inflasi domestik yang menunjukkan tren peningkatan.
Sebagai informasi laju inflasi pada bulan Juli 2022
tercatat sebesar 4,94% secara tahunan, laju inflasi tersebut mengalami
peningkatan dari bulan Juni 2022 yang sebesar 4,35%.
Selanjutnya menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati, bahwa
Pemerintah Indonesia akan terus bersinergi dan berkoordinasi dengan Bank
Indonesia yang berkaitan dengan langkah pengendalian inflasi.
Perkoppi berharap melalui kebijakan kebijakan
perekonomian yang di terapkan oleh pemerintah Indonesia dapat memulihkan dan
meningkatkan perekonomian nasional.