PEMERINTAH INDONESIA MENCATAT PENURUNAN ATAS PEMBIAYAAN UTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA BULAN APRIL 2022


JAKARTA, TaxCenter – Pemerintah Indonesia terus menerapkan berbagai macam kebijakan kebijakan, melalui kebijakan kebijakan tersebut pemerintah Indonesia berharap dapat terus mendorong pemulihan dan juga peningkatan perekonomian nasional.

Baru baru ini Kementerian Keuangan telah mencatat mengenai pembiayaan utang pemerintah sampai dengan bulan April tahun 2022 telah mencapai Rp 155,9 triliun.

Ibu Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan menjelaskan bahwa realisasi atas pembiayaan utang pemerintah tersebut mengalami penurunan sebesar 62% jika di bandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 414,9 triliun.

Menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati bahwa penurunan yang terjadi atas pembiayaan utang pemerintah tersebut telah memberikan tanda bahwa konsolidasi fiskal yang mulai berjalan.

Ibu Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa pembiayaan utang pemerintah tersebut di nilai setara dengan 16% dari target yang telah di tetapkan sebesar Rp 973,6 triliun.

Selanjutnya apabila di perinci, untuk penerbitan atas Surat Berharga Negara (SBN) sampai dengan bulan April 2022 telah mencapai RP 142,2 triliun. Angka penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) tersebut mengalami penurunan sebesar 65% jika di bandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2021.

Kemudian pada saat yang bersamaan untuk nilai pinjaman negara telah mencapai Rp 13,6 triliun atau mengalami penurunan sebesar 857% secara tahunan. Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa penurunan atas nilai pinjaman negara telah menggambarkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah mulai mengalami konsolidasi ataupun pemulihan.

Selanjutnya dengan adanya realisasi atas pembiayaan tersebut, membuat posisi utang pemerintah sampai dengan bulan April 2022 telah mencapai Rp 7.040,32 triliun atau setara dengan 39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kemudian posisi rasio tersebut juga mengalami penurunan jika di bandingkan dengan posisi pada akhir bulan Maret yang sebesar 40,39%.

Selanjutnya untuk utang pemerintah jika di perinci masih di dominasi utang dalam bentuk Surat berharga Negara (SBN). Kontribusi dari Surat Berharga Negara (SBN). Terhadap stok dari utang pemerintah telah mencapai Rp 6.228,9 triliun atau sekitar 88,47%.

Kemudian untuk Surat Berharga Negara (SBN) dalam bentuk mata uang rupiah telah mencapai Rp 4.993,48 triliun, sementara itu untuk dalam bentuk valuta asing mencapai Rp 1.235,41 triliun.

Kemudian untuk kedua Surat Berharga Negara (SBN) tersebut di terbitkan dalam bentuk Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara.

Sementara itu untuk komposisi atas utang pinjaman dari pinjaman tercatat hanya sebesar Rp 811,42 triliun atau sekitar 11,53%. Angka dari utang pinjaman tersebut terdiri atas pinjaman dalam negeri yang sebesar Rp 14,1 triliun dan untuk pinjaman luar negeri sebesar Rp 797,32 triliun.

Perkoppi berharap melalui berbagai macam kebijakan kebijakan yang di terapkan oleh pemerintah Indonesia dapat terus mendorong upaya pemerintah dalam memulihkan dan meningkatkan perekonomian nasional.


Kirim Pertanyaan

Pertanyaan terkirim