PEMERINTAH INDONESIA TELAH MERANCANG DEFISIT ATAS ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 2023


JAKARTA, TaxCenter – Pemerintah Indonesia terus menerapkan berbagai macam kebijakan kebijakan perekonomian, melalui kebijakan kebijakan yang di terapkan oleh pemerintah Indonesia di harapkan dapat terus meningkatkan tingkat perekonomian Indonesia setiap tahunnya.

Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia telah merancang defisit atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2023 akan berada dalam rentang 2,61% sampai dengan 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ibu Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan menjelaskan bahwa defisit atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2023 akan kembali ke dalam level paling tinggi sebesar 3% sesuai dengan amanat dalam Undang Undang (UU) 2/2020.

Menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati bahwa, Pemerintah Indonesia akan melakukan penyusunan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2023 dengan hati hati dan dengan mempertimbangkan berbagai risiko dan tantangan yang akan terjadi pada tahun 2023.

Ibu Sri Mulyani Indrawati juga menjelaskan bahwa untuk pendapatan negara pada tahun 2023 akan semakin meningkat di kisaran 11,19% sampai dengan 11,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara itu untuk tingkat atas belanja negara akan di targetkan dapat mencapai kisaran 13,8% sampai dengan 14,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kemudian untuk keseimbangan primer akan mulai bergerak menuju positif di kisaran minus (-)0,46% sampai dengan 0,65% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Selanjutnya Defisit atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2023 juga di proyeksikan mengalami penurunan ke level 2,61% sampai dengan 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan rasio utang akan tetap terkendali di kisaran 40,58% sampai dengan 42,42% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ibu Sri Mulyani Indrawati menambahkan bahwa terdapat salah satu tantangan yang harus di waspadai yaitu terjadinya lonjakan inflasi dunia sebagai akibat konflik yang terjadi antara Negara Rusia dengan Ukraina, teruntuk di negara negara maju.

Menurut beliau bahwa lonjakan inflasi tersebut akan memberikan dampak rambatan dalam bentuk keluarnya arus modal dari negara negara berkembang dan meningkatnya imbal hasil atas Surat berharga Negara (SBN).

Menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati, bahwa tekanan inflasi yang terjadi di Indonesia, di nilai tidak setinggi dari negara lainnya, hal tersebut terjadi karena kenaikan atas harga dari energi global dapat di redam oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selanjutnya sebagai informasi tambahan bahwa melalui Undang Undang (UU) 2/2020, pemerintah Indonesia berkomitmen akan mengembalikan defisit dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke level 3% pada tahun 2023.

Sebelumnya defisit atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada tahun 2020 sempat mengalami pelebaran ke level 6,09% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan berangsur mengalami penurunan ke level 4,65% pada tahun 2021.

Kemudian memasuki tahun 2022, pemerintah Indonesia awalnya berencana untuk defisit atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 868 triliun atau sekitar 4,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Selanjutnya dengan kesepakatan dari Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR), untuk defisit atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini di targetkan sebesar Rp 840,2 triliun atau sekitar 4,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Perkoppi berharap melalui kebijakan kebijakan perekonomian yang di terapkan oleh pemerintah Indonesia dapat terus meningkatkan pemulihan dan pertumbuhan perekonomian nasional.


Kirim Pertanyaan

Pertanyaan terkirim