PROYEKSI TINGKAT PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19
PROYEKSI TINGKAT PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19
JAKARTA, TaxCenter – Pandemi Covid-19 yang terus
melanda Indonesia, telah memunculkan banyak sekali persoalan-persoalan yang sangat
memberikan dampak negatif bagi negara Indonesia sampai saat ini.
Menurut Akhmad Akbar Susanto dari Ekonom CORE
Indonesia mengatakan bahwa beliau telah meramalkan untuk Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) dan kemiskinan di Indonesia akan kembali meningkat dalam waktu
dekat.
Beliau juga menambahkan bahwa hal itu dapat terjadi
karena lonjakan kasus positif Covid-19 dan diberlakukan pembatasan aktivitas
serta mobilitas masyarakat.
Akhmad Akbar Susanto juga memperkirakan untuk tingkat
pengangguran lajunya akan berada di kisaran 7,15% sampai dengan 7,35% pada bulan
Agustus 2021. Sedangkan berdasarkan data terakhir yang telah dicatat dapa bulan
Februari 2021 untuk tingkat pengangguran mencapai 6,26%.
Beliau juga menambahkan bahwa jika dilihat dari
lonjakan kasus positif Covid-19 yang berujung dengan diberlakukannya pembatasan
tidak hanya mempengaruhi tingkat pengangguran tetapi juga dapat menimbulkan
pergeseran pasar tenaga kerja dari sektor formal ke dalam sektor informal.
Proyeksi ini muncul dikarenakan jika dilihat dari kondisi pasar kerja saat ini
sejatinya sudah bergeser akibat pandemi Covid-19.
Hal tersebut telah tercermin pada proporsi dari tenaga
kerja yang berada di sektor formal yang mencapai 43% hingga 44% dari total
tenaga kerja di Indonesia pada tahun 2019-2020 yang mengalami penurunan menjadi
sebesar 40% pada tahun 2021.
Sedangkan untuk proporsi dari tenaga kerja yang berada
di sektor informal yang awalnya berada diangka 56% hingga 57% pada tahun
2019-2020 mengalami peningkatan mencapai 60% pada tahun 2021.
Selanjutnya untuk tingkat kemiskinan, Akhmad Akbar
Susanto juga memperkirakan untuk laju dari tingkat kemiskinan akan mengalami
peningkatan menjadi 10,25% hingga 10,45% pada bulan September 2021. Sebelumnya
untuk tingkat kemiskinan pada bulan Maret 2021 berada di kisaran 10,14%.
Menurut Akhmad Akbar Susanto, bahwa proyeksi dari
tingkat pengangguran dan kemiskinan yang memburuk ini dikarenakan adanya arah
kebijakan Bantuan Sosial (Bansos) dan Insentif yang diberikan oleh pemerintah
yang sudah tepat ini tidak dibarengi dengan implementasi yang baik di lapangan.
Oleh sebab itu dampak yang diharapkan dapat menahan laju kenaikan tingkat
pengangguran dan angka kemiskinan tidak maksimal.
Mohammad Faisal dari Ekonom CORE Indonesia juga
mengatakan bahwa lonjakan kasus positif Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan
aktivitas masyarakat akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021.
Mohammad Faisal juga memperkirakan untuk laju
pertumbuhan perekonomian hanya mencapai angka 2,5% hingga 3,5% pada tahun 2021.
Beliau mengatakan bahwa proyeksi tersebut berasal dari
tingkat konsumsi rumah tangga yang kemungkinan mengalami penurunan dikarenakan
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4.
Kemudian untuk sektor investasi cenderung mengalami
moderat, dan untuk sektor ekspor masih akan mengalami pertumbuhan secara
positif dikarenakan oleh kenaikan harga komoditas.
Mohammad Faisal juga memperkirakan proyeksi kuartal
untuk perekonomian mengalami pertumbuhan di angka 4,5% hingga 5,5% pada kuartal
II/2021. Tetapi pada kuartal III dan kuartal IV/2021 akan mengalami penurunan
menjadi 3% hingga 4,5%.
Perkoppi berharap agar pandemi Covid-19 bisa cepat
teratasi sehingga perekonomian Indonesia bisa segera pulih.