UPAYA PEMERINTAH INDONESIA DALAM MENJAGA MOMENTUM PEREKONOMIAN MELALUI RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 2023
UPAYA PEMERINTAH INDONESIA DALAM MENJAGA MOMENTUM PEREKONOMIAN MELALUI RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN 2023
JAKARTA, TaxCenter – Pemerintah Indonesia terus
menerapkan berbagai macam kebijakan kebijakan perekonomian. Melalui kebijakan
kebijakan perekonomian yang telah di terapkan oleh pemerintah diharapkan dapat
terus menjaga momentum pemulihan dan peningkatan perekonomian di Indonesia.
Ibu Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan
berpendapatan bahwa dampak yang di timbulkan dari adanya peningkatan harga dari
komoditas terhadap Penerimaan Negara akan segera berakhir.
Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa pemerintah
Indonesia sedang melakukan penyusunan atas Rancangan Undang Undang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun 2023 dan juga naskah nota
keuangan.
Selanjutnya juga, dalam penetapan target dari
penerimaan negara, Windfall penerimaan yang terjadi karena adanya peningkatan
atas harga komoditas diperkirakan tidak akan berlanjut kembali.
Kemudian Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa
Pemerintah Indonesia akan terus memperhatikan tren dari peningkatan harga
komoditas global dalam penetapan atas target penerimaan negara untuk tahun
2023.
Kemudian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
harus siap apabila nantinya penerimaan negara dari tahun 2023 tidak akan
setinggi tahun 2022.
Selanjutnya, Pemerintah Indonesia mengestimasikan
untuk penerimaan negara dari sektor perpajakan yang berasal dari komoditas
akan mencapai sebesar Rp 279 triliun pada tahun 2023.
Sementara itu untuk penerimaan negara dari bea keluar
dari ekspor komoditas diprediksi akan mencapai sebesar Rp 48,9 triliun.
Kemudian menurut Ibu Sri Mulyani Indrawati, bahwa
penerimaan negara dari sektor perpajakan dan kepabeanan pada tahun 2023 tidak
akan setinggi tahun 2022. Hal ini dapat terjadi karena adanya harga dari minyak
mentah dunia diperkirakan akan mengalami penurunan ke level US$90 per barel
dari tahun ini yang sebesar US$95 sampai dengan US$100 per barel.
Selanjutnya hal yang serupa juga terjadi dalam
batu bara yang saat ini telah mencapai US$ 244 per Ton. Untuk tahun 2023, harga
dari batu bara diperkirakan mencapai sebesar US$ 200 per Ton.
Sementara itu untuk, harga dari minyak kelapa sawit
(CPO) yang kini sebesar US$ 1.350 per Ton diperkirakan akan mengalami penurunan
di bawah sebesar US$ 1.00 per Ton.
Ibu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa saat ini
masih terdapat isu isu ketidakpastian karena diakibatkan konflik yang terjadi
antara negara Rusia dengan Ukraina yang juga perlu menjadi perhatian.
Kemudian Ibu Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap mendukung berbagai
macam program program prioritas nasional, seperti pengembangan Sumber Daya
Manusia (SDM), pembangunan Infrastruktur termasuk ke dalam Ibu Kota Negara.
Selanjutnya Pemerintah Indonesia juga akan tetap
melakukan penganggaran atas dana pendidikan sebesar 20% dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara itu untuk anggaran kesehatan
tidak akan lagi diberikan alokasi khusus untuk pandemi, tetapi pemerintah
Indonesia akan menaikkan dana regular dari yang sebesar Rp 133 triliun menjadi
sebesar 168,4 triliun.
Perkoppi berharap melalui kebijakan kebijakan
perekonomian yang telah di terapkan oleh pemerintah Indonesia diharapkan dapat
terus menjaga momentum pemulihan dan peningkatan perekonomian Indonesia di
tengah ketidakpastian global.